Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan, Dinkes Banda Aceh Gelar OJT Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

Banda Aceh – Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh melaksanakan kegiatan On the Job Training (OJT) Kasus Kegawatdaruratan Ibu dan Anak bagi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kota Banda Aceh, Kecamatan Meuraxa, pada 2–4 September 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh dalam memperkuat kompetensi tenaga kesehatan di tingkat FKTP, khususnya dalam menghadapi berbagai kondisi kegawatdaruratan pada ibu dan bayi. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu memberikan penanganan yang cepat, tepat, terkoordinasi, dan sesuai standar pelayanan kesehatan, terutama pada kondisi yang membutuhkan tindakan segera.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si., saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu langkah penting dalam memastikan pelayanan kesehatan ibu dan anak berjalan optimal.

“Kegawatdaruratan maternal dan neonatal membutuhkan respons yang cepat dan tepat. Karena itu, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama harus memiliki kompetensi yang memadai, sehingga mampu melakukan deteksi dini, memberikan pertolongan awal, serta menentukan langkah rujukan secara tepat apabila kondisi pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, pelaksanaan OJT di rumah sakit rujukan memberikan pengalaman pembelajaran yang sangat penting bagi tenaga kesehatan puskesmas karena peserta dapat melihat dan mempelajari secara langsung penanganan kasus dalam situasi klinis yang nyata.

“Kita berharap kegiatan ini tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan secara teori, tetapi benar-benar dapat meningkatkan keterampilan dan kesiapsiagaan petugas ketika menghadapi kasus kegawatdaruratan di lapangan. Penguatan jejaring antara puskesmas dan rumah sakit juga sangat penting agar proses rujukan dapat berjalan cepat, efektif, dan terintegrasi,” tambahnya.

Selama pelaksanaan OJT, peserta mendapatkan pembelajaran yang memadukan teori dan praktik klinis terkait berbagai kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Materi yang diberikan meliputi tatalaksana kegawatdaruratan pada kehamilan, persalinan, dan masa nifas; penanganan kegawatdaruratan pada bayi baru lahir; periode transisi sistem pernapasan dan sirkulasi neonatus; tatalaksana persalinan bersih dan aman; serta alur dan persiapan resusitasi bayi baru lahir.

Untuk mendukung proses pembelajaran, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh menghadirkan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta dokter spesialis Anak sebagai narasumber dan pendamping peserta selama kegiatan berlangsung.

Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Kota Banda Aceh bersama para dokter spesialis turut memberikan pendampingan secara langsung kepada peserta. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada aspek teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman praktik klinis berdasarkan kondisi dan kasus yang ditemui di rumah sakit.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan pengenalan tanda-tanda kegawatdaruratan, menentukan prioritas penanganan, melakukan tindakan awal yang sesuai, serta memahami mekanisme koordinasi dan rujukan secara efektif.

Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh berharap pelaksanaan OJT ini dapat menjadi bagian penting dalam penguatan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak di tingkat FKTP. Selain meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkuat kolaborasi dan kesinambungan pelayanan antara puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan rumah sakit sebagai fasilitas rujukan.

Dengan semakin baiknya kompetensi tenaga kesehatan dan sistem rujukan yang terintegrasi, pelayanan terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta bayi baru lahir diharapkan dapat dilakukan secara lebih responsif, aman, dan berkualitas, sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi dalam menekan angka kesakitan dan kematian maternal maupun neonatal di Kota Banda Aceh.

Sumber: Dinkes Kota Banda Aceh 

Facebook Comments